Senam Kota Semarang Tambah Emas dan Perak, Empat Nomor Masih Dibidik di Porprov Jateng 2026
oleh gusWah

KONIKOTASEMARANG — Kontingen senam Kota Semarang kembali menambah koleksi medali dalam ajang olahraga tingkat Jawa Tengah. Tambahan medali tersebut diperoleh dari nomor aerobik dan ritmik, dengan raihan tiga medali perak pada aerobik serta sejumlah medali emas dan perak dari nomor ritmik.
Ketua Harian Federasi Gimnastik Indonesia (FGI) Kota Semarang, Tommy Soenjoto, menyebut hasil tersebut menjadi bagian dari upaya kontingen untuk menjaga persaingan di cabang olahraga senam. Sejumlah atlet junior telah diturunkan untuk menghadapi lawan yang memiliki pengalaman bertanding lebih banyak.
Senam Aerobik Semarang Raih Tiga Medali Perak
Tiga medali perak dari nomor aerobik diperoleh melalui kategori single putra, mixed pair, dan trio. Pada kategori single putra, medali perak diraih Sani Syahrul Haz.
Sementara itu, pasangan Bintang Prada Adiwangsa Putra TS dan Naura Zalfa Halilla meraih perak pada kategori mixed pair. Medali perak ketiga diperoleh melalui nomor trio yang diperkuat Bintang Prada Adiwangsa Putra TS, Naura Zalfa Halilla, dan Chintya Khairunnisa Salsabila.
“Materi dari lawan sebenarnya memang bagus. Untuk nomor single putra, mixed pair, maupun trio, kali ini memang menjadi kesempatan mereka,” kata Tommy, Rabu (28/10/2026).
Nomor Ritmik Sumbang Emas untuk Kota Semarang
Kontribusi medali juga diberikan atlet senam ritmik Kota Semarang. Pada kategori serba bisa, medali emas diraih Keira Kristianto, sedangkan medali perak diperoleh Zaskia Dwi Yusnita.
Medali emas turut disumbangkan melalui kategori beregu ritmik. Tim tersebut diperkuat Keira Kristianto, Zaskia Dwi Yusnita, Fema Melyada Anggreni, dan Amabel Zameena Aghvor.
Sementara itu, pada nomor free hands, medali emas dilaporkan diraih Lathisa Shakia Kirana.
Hasil tersebut menambah kontribusi atlet senam Kota Semarang dalam perolehan medali pada ajang tersebut.
Atlet Junior Jadi Modal Pembinaan Senam Semarang
Tommy menjelaskan, komposisi atlet yang diturunkan Kota Semarang didominasi pesenam junior. Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan dalam mengevaluasi hasil pertandingan, terutama ketika berhadapan dengan atlet dari daerah lain yang lebih berpengalaman.
“Anak-anak kita masih junior semua, sedangkan atlet Brebes yang menjadi lawan di nomor tersebut sudah senior. Anak-anak yang saya bawa ke PON kemarin juga mendapatkan medali,” ujarnya.
Menurut dia, perbedaan pengalaman bertanding menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pembinaan. Hasil yang diperoleh saat ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan teknik dan kesiapan atlet menghadapi kompetisi berikutnya.
Empat Nomor Diproyeksikan Berpeluang Meraih Emas
Untuk pertandingan selanjutnya, Tommy memperkirakan terdapat empat nomor yang berpotensi menghasilkan medali emas bagi kontingen senam Kota Semarang. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada penampilan atlet ketika bertanding.
“Kalau anak-anak tampil tanpa beban dan bisa lepas, tentu mereka punya peluang untuk meraih emas,” katanya.
Evaluasi juga akan diarahkan pada kesiapan atlet dalam menghadapi tekanan pertandingan. Selain kemampuan teknik, konsistensi penampilan dan pengalaman bertanding menjadi faktor yang perlu terus ditingkatkan agar peluang meraih medali dapat dimaksimalkan.
Fasilitas Latihan Menjadi Perhatian Pembinaan
Di luar hasil pertandingan, kebutuhan fasilitas latihan turut disinggung dalam pembicaraan mengenai perkembangan senam Kota Semarang. Tommy menilai dukungan sarana yang sesuai kebutuhan cabang olahraga diperlukan untuk menunjang proses pembinaan atlet.
Peningkatan fasilitas diharapkan dapat berjalan seiring dengan bertambahnya prestasi atlet senam. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, atlet junior Kota Semarang diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan memberikan kontribusi lebih besar dalam kompetisi mendatang.
