Satu Emas, Satu Perak! Balap Sepeda Kota Semarang Beri Hasil Manis di Porprov Jateng 2026
oleh gusWah

KONIKOTASEMARANG – Cabor Tembak Reaksi di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026 naik level.
Selain sengitnya persaingan antarkontingen, kejuaraan di bawah naungan Perbakin ini menjadi etalase penerapan sistem penilaian berstandar internasional dan ajang lahirnya shooter-shooter baru Jateng.
Juri Tembak Reaksi Porprov Jateng 2026, Mochamad Eko Priyawanto, menjelaskan pertandingan kali ini sudah mengadopsi sistem penilaian yang digunakan di kejuaraan dunia International Practical Shooting Confederation (IPSC).
Sistem tersebut dikenal dengan Integrated Scoring System (ISS). Berbeda dengan pencatatan manual, ISS bekerja secara digital dan terintegrasi online.
Setiap nilai dari Range Officer (RO) di lapangan langsung masuk ke server pusat dan bisa dipantau secara live.
"Penilaian scoring tembak reaksi ini menggunakan sistem ISS atau sistem online. Jadi, dari tembak reaksi pusat maupun Pengurus Besar Perbakin di Jakarta juga bisa memantau secara langsung hasil live scoring kita," kata Eko saat ditemui di lapangan tembak Gatot Subroto Kodam IV/Diponegoro Meteseh, Rabu 28 Oktober 2026.
Secara internasional, penilaian tembak reaksi atau Practical Shooting mengacu pada prinsip DVC yakni Diligentia, Vis, Celeritas (Ketepatan, Kekuatan, dan Kecepatan).
Skor akhir bukan hanya soal tepat sasaran, tapi akumulasi dari hit factor — pembagian poin target dikurangi penalti, lalu dibagi waktu tempuh. Sistem ini menuntut atlet harus cepat, akurat, dan konsisten di setiap stage.
Dengan ISS, transparansi hit factor itu bisa dilihat real-time tanpa menunggu rekap manual.
Bibit Baru Bermunculan, Kemampuan Shooter Meningkat
Di balik teknologi penilaian tersebut, Porprov tahun ini juga mencatat progres positif dari sisi atlet.Eko menilai level kemampuan para shooter kabupaten/kota meningkat dibanding edisi sebelumnya.
Kompetisi yang mempertandingkan empat divisi, Open, Standard, Production, dan Revolver, itu juga memunculkan nama-nama baru.
"Untuk pertandingan tembak reaksi PSC di Porprov ke-17 tahun 2026, kemampuan masing-masing shooter saya rasa cukup meningkat. Di sini juga kita menemukan bibit-bibit baru untuk ke depannya, yang berpotensi mengikuti kualifikasi PON maupun tampil di PON," ujarnya.
Porprov, menurutnya, tidak hanya soal medali. Event ini menjadi laboratorium untuk memetakan kekuatan daerah dan memberi panggung bagi atlet muda unjuk gigi sebelum masuk ke jenjang yang lebih tinggi.
PR Besar: Pembinaan Berkelanjutan
Namun, Eko mengingatkan, menemukan bibit saja tidak cukup. Kunci untuk menjaga asa Jawa Tengah di level nasional ada pada pembinaan pasca Porprov.
Tanpa program latihan terstruktur, pendampingan pelatih, dan dukungan peralatan, potensi yang muncul di Porprov bisa berhenti di tengah jalan.
"Keberlanjutan prestasi sangat bergantung pada keseriusan pengurus Perbakin di masing-masing kabupaten dan kota dalam menjalankan pembinaan," tegasnya.
Dengan kombinasi sistem penilaian digital berstandar IPSC, regenerasi atlet yang mulai terlihat, dan pembinaan yang berkesinambungan, Porprov Jateng XVII diharapkan menjadi fondasi kuat untuk melahirkan shooter Jateng yang mampu bersaing di Babak Kualifikasi PON hingga PON itu sendiri.*
